Mungkin selama ini kita hanya tahu bahwa Goa Lawah hanya terdapat di bali, tepatnya di daerah Klungkung.
Tetapi jangan salah di Lombok juga terdapat Goa yang bernama Goa LAWAH. terletak di desa Lembah Sempage, kec Narmada, Lombok Barat, NTB.
Goa Lawah Lombok berada di desa Lembah Sempage yang bisa di tempuh melalu jalur darat jarak antara desa Lembah Sempage dengan Narmada sekita 1 kilo meter.
Konon critanya Goa ini dapat menembus Bali, dan pada zaman dahulu Goa ini di gunakan sebagai tempat persembunyian para pahlawan dari serangan para penjajah.
Di dalam goa lawah terdapat beberapa pelawangan yang bisa tembus ke Bali, namun kini Pelawangan-pelawangan tersebut sedikit demi sedikit tertutupi oleh tanah yang di akibatkan oleh penambangan pasir yang berada tepat di atas mulut goa.
Goa Lawah di huni oleh ratusan Kelelawar, Seperti yang terdapat di Goa Lawah Bali.
Berikut beberapa koleksi Foto Goa Lawah Lombok Nusa Tenggara Barat.

Antara tahun 1996 s/d 2000 saya hampir setiap 1 bulan sekali ke goa ini, biasanya bersama adik2 pramuka dalam rangka pelantikan kenaikan golongan maupun sekedar heiking. Biasanya kami berjalan kaki melalui route bendungan gunung jae terus melewati desa ( saya lupa namanya . Dari sana kami kemudian turun melewati jalan turunan yang sempit dan curam sebentuk terowongan yang hanya bisa dilewati 1 orang, kalaupun kebetulan berpapasan dengan orang yang datang dari bawah, kami harus sama2 menghimpitkan badan kami diantara tanah terjal disisi kiri dan kanan kami, tapi hal ini bukanlah suatu hal yang mudah. Tiba di bibir sungai yang mengalir di dasar bukit tempat goa itu berada,kembali kami harus menuruninya namun kali ini dengan cara bergelantungan di akar2 pohon maupun pada batu2 yang menancap di dinding bukit. Tiba dibawah, badan kami harus masuk ke air sungai kira2 sampai didada. Sambil berjalan menyeberangi arus sungai kami bergandengan sampai tiba di dinding bukit diseberangnya. Sampai disitu kembali kami harus memanjat dinding bukit dengan alat seadanya ( akar pohon, batu2 yang menancap di dinding bukit, dan juga tidak jarang menggunakan tali pramuka yang telah kami persiapkan. Goa lawah ini terletak tepat ditengah2 dinding bukit, jalan masuk kedalam kira2 berdiameter 150 cm, untuk itu kalau mau masuk kita berjalan dengan cara duduk atau merangkak sekitar 7 sampai 8 meter, setelah itu kita bisa berdiri berjalan berlari ataupun meloncat sesuka hati karena didalamnya begitu luas sekitar 1/2 lapangan sepak bola. Namun suasana didalam tentunya sangat gelap, lampu senter gak bisa menerangi tempat itu. Kita hanya bisa menunggu sampai pandangan kita mampu menyesuaikan diri dengan keadaan disana, karena lambat laun cahaya yang berasal dari mulut gua melai mementulkan sinarnya. Suara tetesan air begitu jelas terdengar bergema memenuhi ruangan goa, mirip suara tetesan air dalam sandiwara radio Brama Kumbara. Sesekali terlihat kelelawar masuk dan keluar melalui mulut gua. Waktu itu jika kita mau masuk lebih dalam lagi masih ada jarak sekitar 1 kilo kedepan lalu kemudian hanya tersisa lubang kecil seukuran satu tubuh dimana lubang inilah yang diyakini menembus sampai ke Bali. Perjalanan pulang dari Goa Lawah ini juga tidak kalah menantangnya. Kita harus mendaki keatas mulut gua, sama seperti waktu datangnya dengan cara mendaki dengan tali ataupun akar2 pohon yang menancap didinding bukit. Sampai diatas kita akan berhadapan dengan tantangan baru yaitu menyeberangi hutan ilalang yang tingginya kira2 3 sampai 4 meter. Ketika berjalan dalam kerapatan hutan ilalang itu orang ketiga yang berada didepan kita tidak terlihat karena sudah tertutup ilalang yang tebal. Perjalanan kita hanya bergantung pada pegangan tangan dan aliran sungai kecil yang mengalir pada akar ilalang yang lebarnya tidak lebih dari 15 cm. Hutan ilalang ini lebarnya sekitar 8 sampai 9 hektar lalu setelah melalui kebun kopi baru kita sampai di jalan desa yang sudah beraspal. Jalan ini jarang dilalui kendaraan umum ataupun angkutan. Satu-satunya angkutan yang beroperasi dijalan ini adalah angkutan jenis pik up terbuka yang biasanya ditumpangi oleh para pedagang yang membawa hasil hutan seperti pisang, ubi,ketela, sayur pakis dll ke pasar terdekat, yaitu pasar KERU yang jaraknya sekitar 10 km. Sekali waktu saya kepingin sekali lagi mengunjungi tempat itu, tapi sampai saat ini belum kesampaian, karena waktu maupun jarak yang jauh, dari tahun 2000 saya sudah berdomisili di Bali. Buat pak/mas Syukron Makmun, saya berterimakasih sekali karena telah mengeposkan tulisan ini, foto2 yang ditampilkan sedikit telah mengobati kerinduan saya pada tempat ini ( Goa Lawah ). Kalau ada foto2 yang lain tentang Goa Lawah ini mohon untuk di upload... Sekali lagi saya ucapkan terimakasih.
BalasHapus